Perpustakaan Alexandria

Perpustakaan kuno Alexandria memiliki koleksi tulisan antik terbaik. Ketika perpustakaan ini dihancurkan pada abad kelima setelah masehi, harta kearifan kuno dalam jumlah yang sangat banyak selamanya hilang.

Pada tahun 1989, Mesir mengumumkan kompetisi arsitektur untuk merancang Perpustakaan Alexandria. Sekitar 650 tim menyerahkan rencana mereka. Merupakan suatu kejutan ketika Snøhetta – sebuah kantor arsitek kecil di Norwegia yang tidak pernah memenangkan kompetisi dan membangun gedung dalam skala besar – mendapat hadiah pertama. Perpustakaan Alexandria yang baru, atau Bibliotheca Alexandrina, dibuka pada tahun 2002 dan dipandang sebagai salah satu karya arsitektur paling penting dalam beberapa dekade terakhir.

Bentuk perpustakaan tersebut sangat mengesankan namun tetap sederhana. Secara keseluruhan, bangunan dibagi secara diagonal, berdiri dalam bentuk silinder dimana kejelasan struktur geometris memiliki persamaan dengan keantikan bangunan besar di Mesir. Garis lurus yang menusuk bentuk silinder perpustakaan sebenarnya adalah jembatan penyeberangan, yang memberikan jalan dari Universitas Alexandria ke Selatan. Jembatan tersebut menyeberangi jalanan yang padat untuk mencapai lantai dua perpustakaan dan terus ke plasa di sebelah Utara gedung, mengarah ke laut.

Di sebelah Barat jembatan ini, sebagian besar berbentuk silinder menukik, menciptakan ruang kosong yang merupakan pintu masuk utama perpustakaan. Pintu masuk perpustakaan menghadap pintu depan sebuah gedung pertemuan tua, dan sepertinya menunjukkan penghormatan pada gedung tersebut. Diantara kedua gedung tersebut adalah plasa yang dihias dengan jalanan batu dan, terbenam di dalam plasa adalah area yang sangat luas untuk planetarium.

Bangunan berbentuk silinder dipotong oleh sudut miring. Umumnya, hal ini akan membentuk elips, tetapi para arsitek memulai dengan silinder elips yang dimiringkan jauh dari garis vertikal. Oleh karena itu, area lantai dasar dan atap bangunan menghasilkan bentuk lingkaran yang sempurna. Dinding-dinding miring perpustakaan semuanya menunjuk ke Utara, ke arah laut. Sementara silinder adalah bentuk statis, bentuk tidak beraturan perpustakaan memberikannya gerak – kesan yang ditekankan oleh garis vertikal 10 m dibawah tanah hingga 32 m di atas tanah dari sebuah gedung bertingkat 10.

Dinding yang menghadap Selatan dari bagian silinder dihias dengan potongan batu granit yang merupakan pecahan batu yang sangat besar, bukan digergaji. Permukaannya tidak rata, dengan garis bentuk yang halus. Batu-batu granit tersebut ditulisi dengan simbol huruf dari seluruh dunia. Sinar matahari dan pantulan lampu di perbatasan air menghasilkan bentuk bayangan dinamis dari simbol-simbol tersebut, yang mengingatkan pada dinding tempat beribadah Mesir kuno. Ruang utama perpustakaan yang sangat luas – setengah lingkaran dengan diameter 160 m – merupakan ruangan yang sangat kuat. Dinding melengkung tebuat dari beton dengan sambungan vertikal terbuka, semetara dinding yang lurus dihias dengan batu hitam dari Zimbabwe. Lantainya dibagi menjadi tujuh tingkat yang menurun ke Utara, menuju Mediterrania.

Perpustakaan Kongres Amerika Serikat

Perpustakaan Kongres Amerika Serikat (Library of Congress) secara de facto adalah perpustakaan nasional Amerika Serikat dan pusat riset Kongres Amerika Serikat. Perpustakaan ini menempati 3 buah gedung di Washington, D.C.. Perpustakaan terbesar di dunia dari segi luas rak buku dan total koleksi buku. Katalog perpustakaan ini mendaftar lebih dari 32 juta judul bahan pustaka yang ditulis dalam 470 bahasa. Perpustakaan juga menyimpan koleksi 61 juta manuskrip, dan koleksi buku langka terbesar di Amerika Utara, termasuk naskah Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat dan Kitab Gutenberg (satu dari 4 salinan velum dalam keadaan sempurna yang ada).[4] Selain itu, perpustakaan menyimpan lebih dari 1 juta judul terbitan pemerintah Amerika Serikat, 1 juta terbitan surat kabar dari seluruh dunia selama 3 abad terakhir, 33.000 volume surat kabar yang dijilid, 500.000 gulung mikrofilm, lebih dari 6.000 judul buku komik, dan koleksi literatur hukum terbesar di dunia.[5] Koleksi bahan nonbuku terdiri dari film, 4,8 juta judul peta, lembar musik, 2,7 juta judul rekaman suara, lebih dari 13,7 juta lembar foto (termasuk gambar arsitektur), serta biola Betts Stradivarius dan Cassavetti Stradivarius.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan_Kongres_Amerika_Serikat

10 Perpustakaan Terbesar Di Dunia

Mari kita lihat ulasan daftar 10 Perpustakaan Terbesar Di Dunia :

1. Library of Congress
Library of Congress ini berada di Washington DC, Amerika Serikat. Library of Congress didirikan pada 1800. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 30 juta buku. Library of Congress muncul di film National Treasure 2.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi1.jpg

2. National Library of China
National Library of China berada di Beijing, Cina. National Library of China didirikan pada tahun 1909. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 22 juta buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi2.jpg

3. Library of the Russian Academy of Sciences
Library of the Russian Academy of Sciences berada di St Petersburg, Rusia. Library of the Russian Academy of Sciences didirikan pada 1714. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 20 juta buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi3.jpg

4. National Library of Canada
National Library of Canada terletak di Ottawa, Kanada. National Library of Canada didirikan pada tahun 1953. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 18.800.000 buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi4.jpg

5. German National Library
German National Library terletak di Frankfurt, Jerman. Ini didirikan pada tahun 1990. Perpustakaan saham ini lebih dari 18.500.000 buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi5.jpg

6. British Library
British Library berada di London, Inggris. British Library didirikan pada 1753. Perpustakaan ini memiliki lebih dari 16 juta buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi6.jpg

7. Institute for Scientific Information Russian Academy of Sciences
Institute for Scientific Information Russian Academy of Sciences terletak di Moskow, Rusia. perpustakaan ini didirikan pada tahun 1969. Perpustakaan ini memiliki lebih dari 13.500.000 buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi7.jpg

8. Harvard University Library
Harvard University Library berada di Cambridge, MA, USA. Harvard University Library didirikan pada tahun 1638. Perpustakaan ini memiliki lebih dari 13.100.000 buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi8.jpg

9. Vernadsky National Scientific Library of Ukraine
Vernadsky National Scientific Library of Ukraine terletak di Kiev, Ukraina.Vernadsky National Scientific Library of Ukraine didirikan pada tahun 1919. Perpustakaan ini memiliki lebih dari 13 juta buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi9.jpg

10. New York Public Library
New York Public Library berada di Kota New York, NY, USA. New York Public Library didirikan pada tahun 1895. Perpustakaan ini memiliki lebih dari 11 juta buku.

http://listphobia.com/wp-content/uploads/080609_1600_10LargestLi10.jpg
 
 

Sejarah perpustakaan dunia

Bibliotheca Alexandrina Egypt (Perpustakaan Iskandariah Mesir) merupakan
perpustakaan pertama dan terbesar di dunia. Perpustakaan ini bahkan bertahan selama berabadabad
dan memiliki koleksi 700.000 gulungan papyrus, bahkan jika di bandingkan dengan
Perpustakaan Sorbonne di abad ke-14 ‘hanya’ memiliki koleksi 1700 buku.
Perpustakaan ini di dirikan oleh Ptolemi I sang penerus Alexander(Iskandariah) pada
tahun 323 SM, dan terus berlanjut sampai kekuasaan Ptolemi III. Pada waktu itu para penguasa
mesir begitu besemangat memajukan Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan mereka, bahkan
dalam Manuskrip Roma mengatakan bahwa sang Raja mesir membelanjakan harta kerajaan
untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000
lainnya berbentuk ringkasan tak berjilid. Ia juga memerintahkan prajurit untuk menggeledah
setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka
menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena
meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III,
ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang
asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya
Namun cerita keemasan ini hanya menjadi sejarah. Ialah ketuka penaklukan bangsa
Romawi yang di pimpin oleh Julius Caesar pada tahun 48 SM. Bangsa Romawi membakar
400.000 buku musnah menjadi abu using yang tak berguna. Dunia ilmu saat itu sangat berduka
karena telah kehilangan salah satu sumber ilmu pengetahuan terbaik saat itu. Namun akhirnya
sang Kaisar, Julius Caesar meminta -maaf, dan sebagai gantinya ia mengirim Marx Antonio
untuk menghadiahkan 200.000 buku dari Roma kepada Ratu mesir saat itu, Cleopatra, dan dari
inilah kisah mereka berlanjut.
Namun perpustakaan megah yang ada di mesir tersebut tak pernah kembali seperti masa –
masa keemasanya. Sejak pembakaran tersebut, Perpustakaan Iskadariah solah tak terurus.
Bahkan hampir menjadi artefak –artefak kuno saja. Akan tetapi, UNESCO memprakarsai untuk
bekerja sama dengan pemerintah Mesir,membangun kembali perpustakaan dengan sejarah
terbesar dalam sejarah tersebut. Dan pembangunan ini di mulai sejak tahun 1990-an.
Pembangunan ini menghabiskan dana tak kurang dari US$ 220 juta. US 120 juta di tanggung
pemerintah Mesir dan sisanya di tanggung dari bantuan Internasional dari Negara-negara lain.
Akhirnya setelah terbengkalai hampir selama 20 Abad, Perpustakaan Iskandriah(Bibliotheca
Alexandrina) berdiri megah dan unik. Bangunan utama berbentuk bulat beratap miring,
terbenam dalam tanah. Di bagian depan sejajar atap, dibuat kolam untuk menetralkan suhu
pustaka, terdiri lima lantai di dalam tanah, perpustakaan ini dapat memuat sekitar 8 juta buku.
Namun yang ada saat ini baru 250.000 buku dan akan terus bertambah tiap tahun.Selain itu juga
menyediakan berbagai fasilitas, seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk
memudahkan pengunjung mencari katalog buku, ruang baca berkapasitas 1.700 orang,
conference room, ruang pustaka Braille Taha Husein khusus tuna netra, pustaka anak-anak,
museum manuskrip kuno, lima lembaga riset, dan kamar-kamar riset yang bisa dipakai gratis.
Dan yang juga menarik,adalah lantai tengah perpustakaan tersebut terdapat Gallery
Design dan bisa dilihat dari berbagai sisi. Di lantai kayu yang cukup luas itu terpajang berbagai
prototype mesin cetak kuno dan berbagai lukisan dinding. Perpustakaan ini selalu dipenuhi
pengunjung, padahal di Alexandria tidak banyak -
universitas seperti di Kairo. Ini menunjukkan tingginya minat baca masyarakat Mesir dan
perpustakaan yang dulu dihancurkan Julius Caesar itu kini menjadi salah satu objek wisata
sebagaimana Piramid Giza, Mumi, Karnax Temple, Kuburan para Firaun di Luxor atau Museum
Kairo yang menyimpan timbunan emas Tutankhamun.
Isi di perpustakaan tersebut mengandung:
# Sebuah Perpustakaan yang dapat menampung jutaan buku.
# Sebuah Arsip Internet
# Enam khusus perpustakaan untuk
1. Seni, multimedia dan bahan-bahan audio-visual,
2. tunanetra,
3. anak-anak,
4. kaum muda,
5. microforms, dan
6. buku langka dan koleksi khusus
# Empat Museum untuk
1. Antiquities,
2. Naskah,
3. Sadat dan
4. Sejarah Sains
-
# Planetarium A
# Sebuah Exploratorium untuk eksposur anak terhadap ilmu (ALEXploratorium)
# Culturama: panorama budaya lebih dari sembilan layar, yang pertama kalinya dipatenkan 9-
proyektor sistem interaktif. Pemenang banyak penghargaan, yang Culturama, dikembangkan
oleh CULTNAT, memungkinkan penyajian banyak lapisan data, dimana presenter dapat klik
pada item dan pergi ke tingkat baru detail. Ini adalah presentasi multi-media sangat informatif
dan menarik warisan di Mesir 5.000 tahun sejarah untuk zaman modern, dengan highlights dan
contoh-contoh dan Koptik Mesir Kuno / warisan Islam.
# VISTA (The Virtual Immersive Sains dan Teknologi Aplikasi sistem) adalah sebuah
lingkungan Virtual Reality interaktif, yang memungkinkan peneliti untuk mengubah data set ke
dalam dua-dimensi simulasi 3-D, dan ke langkah di dalamnya. Sebuah alat praktis visualisasi
selama penelitian, VISTA membantu peneliti untuk mensimulasikan perilaku sistem alam atau
manusia-rekayasa, bukan hanya mengamati sistem atau membangun model fisik.
# Delapan pusat penelitian akademik:
1. Alexandria dan Pusat Penelitian Mediterania (Alex-Med),
2. Arts Center,
3. Kaligrafi Pusat,
4. Pusat Studi Khusus dan Program (CSSP),
5. Sekolah Internasional Studi Informasi (ISIS),
6. Naskah Pusat,
-7. Pusat Dokumentasi Budaya dan Warisan Alam (CultNat, terletak di Kairo), dan
8. Alexandria Pusat Studi Helenistik.
# Lima belas pameran tetap meliputi
1. Tayangan dari Aleksandria: Koleksi Awad,
2. Dunia Shadi Abdel Salam,
3. Arabic Kaligrafi,
4. Sejarah Percetakan,
5. Arab-Muslim Abad Pertengahan Instrumen Astronomi dan Sains (Penunggang Star), dan
Pameran Tetap Seleksi Seni Kontemporer Mesir:
6. Para Artis Buku,
7. Mohie El Din Hussein: A Journey Kreatif,
8. Abdel Salam Idul Fitri,
9. The Raaya El-Nimr dan Abdel-Ghani Abou El-Enein Koleksi Seni Rakyat Arab,
10. Seif dan lemah Adham: Motion dan Seni,
11. Dipilih Artworks dari Henin Adam,
12. Dipilih Artworks Ahmed-Abdel Wahab,
13. Artworks Terpilih Hamed Saeed,
14. Dipilih Artworks dari Soliman Hassan, dan
15. Sculpture.
-
# Empat seni galeri untuk pameran temporer
# Sebuah Pusat Konferensi untuk ribuan orang
# Sebuah Forum Dialog yang memberikan kesempatan untuk pertemuan, dan diskusi dengan
para pemikir, penulis dan penulis untuk membahas berbagai isu penting yang mempengaruhi
masyarakat modern. Forum Reformasi Arab adalah hasil dari Konferensi Reformasi Arab
pertama diselenggarakan pada tahun 2004
Sumber : http://kask.us/4042660 oleh gerryas
Sejarah perpustakaan indonesia
Sejarah perpustakaan di Indonesia tergolong masih muda jika
dibandingkan dengan negara Eropa dan Arab. Jika kita mengambil
pendapat bahwa sejarah perpustakaan ditandai dengan dikenalnya
tulisan, maka sejarah perpustakaan di Indonesia dapat dimulai pada
tahun 400-an yaitu saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan
dari periode Kerajaan Kutai. Musafir Fa-Hsien dari tahun 414
Menyatakan bahwa di kerajaan Ye-po-ti, yang sebenarnya kerajaan
Tarumanegara banyak dijumpai kaum Brahmana yang tentunya memerlukan buku atau
manuskrip keagamaan yang mungkin disimpan di kediaman pendeta.
Pada sekitar tahun 695 M, menurut musafir I-tsing dari Cina, di Ibukota Kerajaan
Sriwijaya hidup lebih dari 1000 orang biksu dengan tugas keagamaan dan mempelajari agama
Budha melalui berbagai buku yang tentu saja disimpan di berbagai biasa.
Di pulau Jawa, sejarah perpustakaan tersebut dimulai pada masa Kerajaan Mataram. Hal
ini karena di kerajaan ini mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra.
Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama
Budha Mahayana. Menyusul kemudian Sembilan parwa sari cerita Mahabharata dan satu kanda
dari epos Ramayana. Juga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan
Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa.
Dari uraian tersebut nyata bahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun
lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan. Jaman
Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu
Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha. Selain itu Mpu
panuluh juga menggubah kitab Hariwangsa dan kitab Gatotkacasrayya. Selain itu ada Mpu
Monaguna dengan kitab Sumanasantaka dan Mpu Triguna dengan kitam Kresnayana.
Semua kitab itu ditulis diatas daun lontar dengan jumlah yang sangat terbatas dan tetap
berada dalam lingkungan keraton. Periode berikutnya adalah Kerajaan Singosari. Pada periode
ini tidak dihasilkan naskah terkenal. Kitab Pararaton yang terkenal itu diduga ditulis setelah
keruntuhan kerajaan Singosari. Pada jaman Majapahit dihasilkan dihasilkan buku
Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu -
Prapanca. Sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma. Pada jaman ini dihasilkan
pula karya-karya lain seperti Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Sorandaka, dan
Sundayana.
Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan sultan
yang tersebar di Nusantara. Misalnya, jaman kerajaan Demak, Banten, Mataram, Surakarta
Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Demak, Banten, Melayu, Jambi, Mempawah, Makassar,
Maluku, dan Sumbawa. Dari Cerebon diketahui dihasilkan puluhan buku yang ditulis sekitar
abad ke-16 dan ke-17. Buku-buku tersebut adalah Pustaka Rajya-rajya & Bumi Nusantara (25
jilid), Pustaka Praratwan (10 jilid), Pustaka Nagarakretabhumi (12 jilid), Purwwaka
Samatabhuwana (17 jilid), Naskah hukum (2 jilid), Usadha (15 jilid), Naskah Masasastra (42
jilid), Usana (24 jilid), Kidung (18 jilid), Pustaka prasasti (35 jilid), Serat Nitrasamaya pantara
ning raja-raja (18 jilid), Carita sang Waliya (20 jilid), dan lainlain. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa Cirebon merupakan salah satu pusat perbukuan pada masanya. Seperti pada
masamasa sebelumnya buku-buku tersebut disimpan di istana.
Kedatangan bangsa Barat pada abad ke-16 membawa budaya tersendiri. Perpustakaan
mulai didirikan mula-mula untuk tujuan menunjang program penyebaran agama mereka.
Berdasarkan sumber sekunder perpustakaan paling awal berdiri pada masa ini adalah pada masa
VOC (Vereenigde OostJurnal Indische Compaqnie) yaitu perpustakaan gereja di Batavia (kini
Jakarta) yang dibangun sejak 1624. Namun karena beberapa kesulitan perpustakaan ini baru
diresmikan pada 27 April 1643 dengan penunjukan pustakawan bernama Ds. (Dominus)
Abraham Fierenius. Pada masa inilah perpustakaan tidak lagi -
diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja, namun mulai dinikmati oleh masyarakat
umum. Perpustakaan meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit Batavia, bahkan
peminjaman buku diperluas sampai ke Semarang dan Juana (Jawa Tengah). Jadi pada abad
ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa perpustakaan (kini layanan seperti ini disebut
dengan pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan). Lebih dari seratus tahun kemudian
berdiri perpustakaan khusus di Batavia. Pada tanggal 25 April 1778 berdiri Bataviaasche
Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia. Bersamaan dengan
berdirinya lembaga tersebut berdiri pula perpustakaan lembaga BGKW. Pendirian perpustakaan
lembaga BGKW tersebut diprakarsai oleh Mr. J.C.M.
Rademaker, ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). Ia memprakarsai
pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaannya. Perpustakaan ini kemudian
mengeluarkan katalog buku yang pertama di Indonesia yaitu pada tahun 1846 dengan judul
Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Florest Catalogue Systematicus hasil suntingan P.
Bleeker. Edisi kedua terbit dalam bahasa Belanda pada tahun 1848. Perpustakaan ini aktif dalam
pertukaran bahan perpustakaan. Penerbitan yang digunakan sebagai bahan pertukaran adalah
Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Verhandelingen van het Bataviaasch
Genootschapn van Kunsten en Wetenschappen, Jaarboek serta Werken buiten de Serie. Karena
prestasinya yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan, maka namanya ditambah
menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Nama ini
kemudian berubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada tahun 1950.
Pada tahun 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah
Republik Indonesia dan namanyapun diubah menjadi Museum Pusat. Koleksi perpustakaannya
menjadi bagian dari Museum Pusat dan dikenal dengan -
perpustakaan Museum Pusat. Nama Museum Pusat ini kemudian berubah lagi menjadi
Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional.
Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan.
Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989 ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai
bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sesudah pembangunan BKGW,
berdirilah perpustakaan khusus lainnya seiring dengan berdirinya berbagai lembaga penelitian
maupun lembaga pemerintahan lainnya. Sebagai contoh pada tahun 1842 didirikan Bibliotheek’s
Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pada tahun 1911 namanya berubah menjadi Central
Natuurwetenchap-pelijke Bibliotheek van het Departement van Lanbouw, Nijverheid en Handel.
Nama ini kemudian berubah lagi menjadi Bibliotheca Bogoriensis. Tahun 1962 nama ini
berubah lagi menjadi Pusat Perpustakaan Penelitian Teknik Pertanian, kemudian menjadi Pusat
Perpustakaan Biologi dan Pertanian. Perpustakaan ini berubah nama kembali menjadi
perpustakaan ini bernama Perpustakaan Pusat Pertanian dan Komunikasi Penelitian. Kini
perpustakaan ini bernama Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Hasil-hasil Penelitian. Setelah
periode tanam paksa, pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik etis untuk membalas
”utang” kepada rakyat Indonesia. Salah satu kegiatan politik etis adalah pembangunan sekolah
rakyat.
Dalam bidang perpustakaan sekolah, pemerintah Hindia Belanda mendirikan
Volksbibliotheek atau terjemahan dari perpustakaan rakyat, namun pengertiannya berbeda
dengan pengertian perpustakaan umum. Volksbibliotheek artinya perpustakaan yang didirikan
oleh Volkslectuur (kelak berubah menjadi Balai Pustaka), sedangkan pengelolaannya diserahkan
kepada Volkschool. Volkschool artinya sekolah rakyat yang menerima tamatan sekolah rendah
tingkat dua. -Perpustakaan ini melayani murid dan guru serta menyediakan bahan bacaan bagi
rakyat setempat. Murid tidak dipungut bayaran, sedangkan masyarakat umum dipungut bayaran
untuk setiap buku yang dipinjamnya.
Kalau pada tahun 1911 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Hindia Belanda
mendirikan Indonesische Volksblibliotheken, maka pada tahun 1916 didirikan Nederlandsche
Volksblibliotheken yang digabungkan dalam Holland-Inlandsche School (H.I.S). H.I.S.
merupakan sejenis sekolah lanjutan dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda. Tujuan
Nederlandsche Volksblibliotheken adalah untuk memenuhi keperluan bacaan para guru dan
murid. Di Batavia tercatat beberapa sekolah swasta, diantaranya sekolah milik Tiong Hoa, Hwe
Koan, yang memiliki perpustakaan. Sekolah tersebut menerima bantuan buku dari Commercial
Press (Shanghai) dan Chung Hua Book Co. (Shanghai).
Sebenarnya sebelum pemerintah Hindia Belanda mendirikan perpustakaan sekolah, pihak
swasta terlebih dahulu mendirikan perpustakaan yang mirip dengan pengertian perpustakaan
umum dewasa ini. Pada tahun awal tahun 1910 berdiri Openbare leeszalen. Istilah ini mungkin
dapat diterjemahkan dengan istilah ruang baca umum. Openbare leeszalen ini didirikan oleh
antara lain Loge der Vrijmetselaren, Theosofische Vereeniging, dan Maatschappij tot Nut van
het Algemeen.
Perkembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia dimulai pada awal tahun
1920an yaitu mengikuti berdirinya sekolah tinggi, misalnya seperti Geneeskunde Hoogeschool di
Batavia (1927) dan kemudian juga di Surabaya dengan STOVIA; Technische Hoogescholl di
Bandung (1920), Fakultait van Landbouwwentenschap (er Wijsgebeerte Bitenzorg, 1941),
Rechtshoogeschool di -Batavia (1924), dan Fakulteit van Letterkunde di Batavia (1940). Setiap
sekolah tinggi atau fakultas itu mempunyai perpustakaan yang terpisah satu sama lain.
Pada jaman Hindia Belanda juga berkembang sejenis perpustakaan komersial yang
dikenal dengan nama Huurbibliotheek atau perpustakaan sewa. Perpustakaan sewa adalah
perpustakaan yang meminjamkan buku kepada kepada pemakainya dengan memungut uang
sewa. Pada saat itu tejadi persaingan antara Volksbibliotheek dengan Huurbibliotheek.
Sungguhpun demikian dalam prakteknya terdapat perbedaan bahan bacaan yang disediakan.
Volksbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan populer ilmiah, maka perpustakaan
Huurbibliotheek lebih banyak menyediakan bahan bacaan berupa roman dalam bahasa Belanda,
Inggris, Perancis, buku remaja serta bacaan gadis remaja. Disamping penyewaan buku ter-dapat
penyewaan naskah, misalnya penulis Muhammad Bakir pada tahun 1897 mengelola sebuah
perpustakaan sewaan di Pecenongan, Jakarta. Jenis sewa Naskah juga dijumpai di Palembang
dan Banjarmasin. Naskah disewakan pada umumnya dengan biaya tertentu dengan disertai
permohonan kepada pembacanya supaya menangani naskah dengan baik.
Disamping perpustakaan yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebenarnya
tercatat juga perpustakaan yang didirikan oleh orang Indonesia. Pihak Keraton Mangkunegoro
mendirikan perpustakaan keraton sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko.
Sebagian besar koleksinya adalah naskah kuno. Koleksi perpustakaan ini tidak dipinjamkan,
namun boleh dibaca di tempat. Pada masa penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan
perpustakaan yang berarti. Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting diantaranya
Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen.
Selama pendudukan Jepang openbare leeszalen ditutup. Volkbibliotheek dijarah oleh
rakyat dan lenyap dari permukaan bumi. Karena pengamanan yang kuat pada gedung
Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen maka koleksi perpustakaan ini dapat
dipertahankan, dan merupakan cikal bakal dari Perpustakaan Nasional. Perkembangan pasca
kemerdekaan mungkin dapat dimulai dari tahun 1950an yang ditandai dengan berdirinya
perpustakaan baru. Pada tanggal 25 Agustus 1950 berdiri perpustakaan Yayasan Bung Hatta
dengan koleksi yang menitikberatkan kepada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan
Indonesia.
Tanggal 7 Juni 1952 perpustakaan Stichting voor culturele Samenwerking, suatu badan
kerjasama kebudayaan antara pemerintah RI dengan pemerintah Negeri Belanda, diserahkan
kepada pemerintah RI. Kemudian oleh Pemerintah RI diubah menjadi Perpustakaan Sejarah
Politik dan Sosial Departemen P & K. Dalam rangka usaha melakukan pemberantasan buta
huruf di seluruh pelosok tanah air, telah didirikan Perpustakaan Rakyat yang bertugas membantu
usaha Jawatan Pendidikan Masyarakat melakukan usaha pemberantasan buta huruf tersebut.
Pada periode ini juga lahir perpustakaan Negara yang berfungsi sebagaiperpustakaan umum dan
didirikan di Ibukota Propinsi. Perpustakaan Negara yang pertama didirikan di Yogyakarta pada
tahun 1949, kemudian disusul Ambon (1952); Bandung (1953); Ujung Pandang (1954); Padang
(1956); Palembang (1957); Jakarta (1958); Palangkaraya, Singaraja, Mataram, Medan,
Pekanbaru dan Surabaya (1959). Setelah itu menyusul kemudian Perpustakaan Nagara di
Banjarmasin (1960); Manado (1961); Kupang dan Samarinda (1964). Perpustakaan Negara ini
dikembangkan secara lintas instansional oleh tiga instansi yaitu Biro Perpustakaan Departemen
P & K yang membina secara teknis, Perwakilan Departemen P & K yang membina secara
administratif, dan Pemerintah Daerah Tingkat Propinsi yang memberikan fasilitas.
Sumber : Jurnal Pustakawan Indonesia volume 6 nomor 1 59
Oleh: oky rachmawati / 10540003